Pikiran Rakyat – Matasora World Music Festival, Meretas Jalan Jadi Barometer World Music Internasional

SUARA alat musik tiup dari musisi asal Ekuador, Yawri mengisi salah satu panggung Matasora World Music Festival (MWMF) 2017. Berlangsung di Gudang Persediaan PT KAI Jalan Sukabumi Kota Bandung, MWMF menampilkan aksi para musisi dari Indonesia dan mancanegara.

Pada Sabtu, 22 Juli 2017, selain Yawri, tampil juga Littlelute, Parahyena, Kunokini & Svaraliane, Patrick Shawn Iversen-Shri Sriram-Gamelan Shockbreaker, Grace Sahertian, Trah, dan Electric Fields.

Tak hanya pertunjukan musik, penonton yang hadir juga mengikuti berbagai lokakarya. Misalnya tari jaipongan bersama Mira Tejaningrum (Jugala), tari ramwong bersama Universitas Ramkhamhaeng dari Thailand, dan perkusi bersama Zineer. Komunitas Ruang Film Bandung juga diadakan pemutaran sejumlah judul film antara lain “Sengatan Si Bengal”, “Jejak Musik Harry Roesli”, dan “Muslim Headbangers”.

Artistic Director MWMF Ismet Ruhimat mengatakan, festival ini diharapkan menjadi barometer world music di tingkat internasional. Sebagai festival musik yang baru pertama kali digelar, kata Ismet, MWMF memanfaatkan momentum yang ada untuk membuat strategi. Penyelengaraan tahun ini, kata Ismet, menjadi bahan evaluasi untuk MWMF tahun-tahun berikutnya.

“Kami memilih musisi dan seniman yang sudah memiliki reputasi. Mereka juga punya komitmen untuk membantu memberikan spirit menumbuhkan lagi festival musik. Tak disangka juga respons dukungan datang tak hanya dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat tapi juga dari pemerintah pusat,” tuturnya.

Salah seorang musisi yang tampil, Patrick Shaw Iversen mengungkapkan, festival musik menjadi tempat untuk bertemu dengan berbagai kalangan. Tak hanya musisi lain tapi juga penonton dengan berbagai latar belakang.

Menurut Patrick, festival juga menjadi tempat eksplorasi musisi untuk menemukan hal baru. Di pentas MWMF, Patrick berkolaborasi dengan Gamelan Shockreaker. Proyek ini menampilkan dua kultur musik, yakni gamelan dari Indonesia yang bertemu Patrick dengan musik jazz, fusion, dan elektronik. Konsep ini menghasilkan elemen world music yang baru.

Sementara itu, band folk asal Bandung Littlelute yang dihuni Dhea (vokal), Boiq (mandola), Faried (mandolin), Atse (ukulele, sopran), Endang (ukulele, tenor), Rengga (ukulele, bas), dan Bob (perkusi) tampil atraktif.

“Senang main di Matasora karena sudah lama tidak main di panggung sebesar ini,” kata Dhea.

Repertoar Littlelute untuk MWMF diambil dari album “Traces of Dollface and Plots”. Mereka melantunkan antara lain “Berlibur ke Poznan”, “Hallo, Daddy!”, “Taman Musim Semi”, dan “Charlie”.

Penyelenggaraan MWMF akan berlanjut pada Minggu, 23 Juli 2017 dengan menampilkan lokakarya tari Rejang Shanti bersama Bulantrisna Djelantik, talkshow bersama Idhar Resmadi dalam tema “Music Writing in Social and Culture Change”, dan pemutaran film “Dendang Nusantaraā€¯.

Dari pentas musik, akan tampil Balaruna, Cakravala Mandala Dvipantara, Saratuspersen, Rubah di Selatan, Gilles Saissi and Persahabatan Project, Fade to Blue, Kuaetnika, Sambasuda, dan Colin Bass.***

SUMBER : http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2017/07/22/matasora-world-music-festival-meretas-jalan-jadi-barometer-world-music