Press Confrence -Hikayat Kota & Festival

Dalam peradaban kota-kota di seluruh dunia, sebuah perayaan / festival merupakan bentuk ekspresi kreatif warganya. Sebuah festival menggambarkan gairah warga kota, menciptakan energi, inspirasi serta berfungsi sebagai penggerak denyut ekonomi. Dalam fungsi sosialnya, festival dapat menjadi sebuah ajang pencerahan terhadap beragam isu publik yang dikemas secara santai nan menghibur.

Kita tentu ingat bagaimana festival besar seperti WOODSTOCK di tahun 1969 dapat merespon isu global terkait perang Vietnam, yang memaksa pemerintah Amerika Serikat mengakhiri perang Vietnam juga menghasilkan generasi budaya baru para “hippies” dan “Flower generation”. Di Inggris sejak tahun 1982 festival seperti WOMAD yang di inisiasi oleh Peter Gabriel telah mampu merubah perspektif masyarakat tentang “racism”, pun demikian RAINFOREST MUSIC FESTIVAL yang diinisiasi oleh Randy Raine semenjak tahun 1997 di Sarawak-Malaysia berhasil menumbuhkan keterlibatan dan kesadaran masyarakat dunia dalam menjaga hutan hujan.

Dalam satu dasawarsa terakhir ini, Kota Bandung sebagai poros kota Kreatif di Indonesia tampaknya kehilangan “taring”nya untuk mempersembahkan sebuah festival dengan gagasan-gagasan besar. Hal ini terlihat dengan tidak adanya satupun perhelatan Festival di Kota Bandung yang di”resmikan” oleh kementrian Pariwisata RI sebagai Event Nasional di tahun 2017. Posisi kota Bandung saat ini mulai tergeserkan oleh kota-kota seperti Banyuwangi, Jember maupun Jailolo. Berkaca dari hal tersebut, dengan tujuan untuk meningkatkan identitas kota, para pelaku industry kreatif yakni Ismet Ruchimat – Composer & Musisi, Satria Yanuar Akbar – Independent producer dan Meizan Natadiningrat – Designer menggagas sebuah festival bertajuk MATASORA world music festival yang diharapkan dapat menjadi landmark bagi kota Bandung dalam merespon isu – isu sosial masyarakat yang berkembang.

MATASORA world music festival adalah sebuah perhelatan yang dirancang untuk meningkatkan dialog multicultural, diskusi terkait isu pedesaan dan perkotaan, mempromosikan pariwisata daerah serta gaya hidup ramah lingkungan yang berkelanjutan. Festival unik ini diproyeksikan untuk membuka hati dan pikiran para pengunjung tentang keberagaman kebudayaan dunia melalui music, sebagai salah satu bahasa perekat beragam perbedaan. Festival akan diselenggarakan pada tanggal 22 – 23 Juli 2017 di Gudang KAI Kota Bandung Jalan Sukabumi. Festival ini direncanakan untuk dilaksanakan rutin setiap tahun di bulan Juli. Dalam festival ini akan diselenggarakan KONSER MUSIK, WORKSHOP MUSIK dan TARI, FILM SCREENING, FOOD BAZAAR, DISKUSI hingga ZONA EDUKASI ANAK. Sejumlah pelaku industry kreatif Nasional maupun Internasional akan diundang untuk menjadi bagian dalam mengkampanyekan pemahaman lintas budaya bagi masyarakat. Sebuah harapan, festival ini dapat menjadi karya yang memperkuat identitas kota Bandung sebagai kota kreatif pun menjadi kebanggaan masyarakat kota Bandung pada masa yang akan datang.

***
tentang penyelenggara kegiatan
SATRIASATRIA
Independent producer & event management company
SATRIASATRIA (SS) adalah perusahaan manajemen kesenian dan produser independent berasal dari Bandung Jawa Barat. Didirikan sejak tahun 2011, SS telah berkolaborasi bersama ratusan produser, festival, event organizer, komunitas kesenian maupun lembaga pemerintahan dalam penyelenggaraan beragam program seni pertunjukan. Dengan aktivitas utama dalam penyelenggaraan pagelaran, projek seni, konsultasi manajemen seni, manajemen seniman (artist management), festival hingga manajemen ruang seni, SS berupaya menangkap beragam perubahan dan memperluas sudut pandang public untuk menghadirkan beragam inspirasi kreatif dalam setiap karyanya.

Informasi :
Sonya Suswanti (0821.2658.2148) – Publikasi
MATASORA WORLD MUSIC FESTIVAL
Jln. Cianjur No 3 Bandung
www.matasora.com